Angin malam berhembus di luar. Udara semakin dingin. Sesekali terdengar bunyi kendaraan yang mendekat lalu menjauh. Di ruang sempit yang serba putih itu, aku duduk sendirian. Aku tidak akan membiarkan seorang pun masuk ke dalam ruangan tempatku berada sekarang ini. Aku butuh kesendirian sampai ini selesai. Aku sedang buang air besar.

Ah… Lega… *SFX: water flush*

Dan gw pun menulis postingan ini.

Well, fellas, setelah hampir telat naik travel gara-gara jalanan macet, akhirnya gw sampai di Bandung. Malam yang dingin, angkot sudah nggak banyak lagi. Gw memutuskan untuk naik ojeg. Kebetulan ada tukang ojeg yang nawarin…

Tukang Ojeg(T.O): “Ojeg, De’?” (bukan, nama gw bukan Dede ataupun Ade. Itu maksudnya Dik, atau Adik, panggilan yang cukup sopan untuk yang lebih muda; Ah, kamu, masa gitu aja gak ngerti.)

Gw: “Ke Jalan Taman Sari berapa, A’?”

T.O: “Taman Sari-nya mana, De?”

Gw: “Itu, deket hotel Sawunggaling.”

T.O: “15 ribu ya, De’.”

Gw: “HOLY SHIT, DUDE!! ARE YOU OUT OF YOUR FUCKIN’ MIND?! THAT’S TOO FUCKIN EXPENSIVE, YOU SHITTY OJEG-RIDER!!”

Euh, nggak. Gw gak ngomong kayak gitu. Tukang ojegnya mana ngerti. Yang bener itu:

Gw: “Hah?! Nggak atuh…! 5 ribu lah..”

T.O: “Wah, nggak bisa De’… (sekali lagi, nama gw bukan Dede)10 ribu lah.”

Gw: “Nggak deh, A’…”

Cihampelas – Kosan Gw, 10 ribu?! PLIS DEH, JARAKNYA GAK SAMPE DUA KILOMETER, GITU LOH!! Najis tralala gw harus bayar segitu… Mending gw jalan kaki!

Dan jadilah gw jalan kaki sampai kosan.

Sampai di kosan, gw melapor ke orang-orang rumah(kosan gw sebenernya adalah rumah sodara gw, cuma gw lebih suka nyebutnya kosan). Demi mencari hiburan malam, gw numpang ngopi mangascan dari kompi sodara gw… disertai dengan beberapa ‘tambahan’ lain. Jangan tanya tambahannya apa. Pokoknya jangan.

Besoknya, gw harus berhadapan dengan pilihan sulit nan membingungkan. Gw harus memilih siapa yang pantas jadi pacar gw… Oh, bukan. Maksud gw, gw harus memilih studio yang akan gw masuki di prodi Seni Rupa ini.

Sebelum angket pemilihan dibagikan, ada presentasi dari masing-masing studio. Gw menyimak dengan seksama. Di akhir presentasi, gw bingung setengah mati. Kenapa? Karena gw yang tadinya pengen milih studio Seni Patung ini jadi tertarik dan merasa lebih cocok dengan studio Seni Lukis.

Seriously, gw bingung… Mana itu angket harus diisi right away pulak. Temen-temen gw kayaknya udah memantapkan hati. Cuma gw sendiri yang goyah. Gw nanya ke salah satu dosen. Beliau bilang, ‘output dari Seni Murni(sekarang namanya Seni Rupa) semuanya sama: seniman. Yang ngebedain cuma medianya. Pilih aja media yang cocok buat kamu apa’.

Di saat goyah begini, pertimbangan dengan rasio dan logika menjadi bias. Semuanya serba gak yakin. Akhirnya, di penghujung kebimbangan itu, gw memilih…

SENI LUKIS.

Seni Patung gw tempatin di pilihan kedua. Gw mengikuti kata hati gw yang ternyata lebih cenderung ke arah Seni Lukis. Gw suka ngelukis, main-main dengan kuas dan cat di atas kanvas. Meskipun skill gw gak seberapa dibanding mereka yang juga memilih Seni Lukis, tapi minat gw gak kalah besar dibanding mereka, dan itulah yang penting. Dosen-dosen bilang begitu. Kalo kata Mario Teguh, ‘carilah pekerjaan yang bisa membuat Anda lupa makan siang’.

Dan sepertinya melukis cukup untuk bikin gw lupa makan siang.

[UPDATED]

Pagi ini, gw ke kampus, ngeliat pengumuman penentuan studio. Kemarin gw udah menetapkan hati untuk milih Seni Lukis. Gw merasa lega, merasa udah jujur sama diri sendiri. Dan inilah yang tertulis di papan pengumuman:

Harun Suaidi Isnaini ______________________ Seni Patung

Gw nyaris gak percaya sama apa yang gw lihat. Kemarin gw baru aja menemukan the moment of truth, dimana gw jujur sama diri gw sendiri bahwa gw lebih prefer ke Seni Lukis. Sekarang, gw dihadapkan pada kenyataan bahwa gw diterima di prodi Seni Patung. Seolah-olah Allah bilang ke gw, ‘Kamu kan dulu udah milih Seni Patung, ya udah Seni Patung aja’.

Gw bingung, antara senang dan kecewa. Lucu sekali, setelah gw mencoba untuk jujur sama diri gw sendiri, ternyata kejujuran itu gak berarti apa-apa. Gw tetap masuk Seni Patung, jurusan yang selama ini gw ‘inginkan’…. atau gw pikir itulah yang gw inginkan. Selama ini gw berusaha meyakinkan diri gw sendiri(dan orang lain) bahwa emang Seni Patung yang gw inginkan. Tapi di hari itu, gw goyah. Gw berusaha untuk objektif, dan yang lebih penting, gw berusaha untuk jujur, dan gw goyah karenanya. Dan di detik-detik terakhir, gw mencontreng Seni Lukis di kolom pilihan pertama, dan Seni Patung di pilihan kedua. Gw lebih berharap masuk Seni Lukis, tapi ternyata gw dapetnya ‘tetap’ Seni Patung. Gw seperti gak diizinkan untuk memilih.

Saat ini, yang gw butuhkan, lebih dari apapun cuma satu: keyakinan. Gw butuh diyakinkan bahwa inilah emang jalan gw, atau gw butuh diyakinkan bahwa sebaiknya gw pindah aja. Sulit bagi gw untuk meyakinkan diri gw sendiri, karena gw senang sekaligus kecewa. Gw butuh diyakinkan… Diyakinkan…

================================================

Okeh, that was gloomy. Eniwei…

SELAMA LIBURAN, HARUNSAURUS MEMBELI BEBERAPA BARANG BARU. APA AJA TUH?

1) Gw beli ransel laptop baru. Yang lama tempat laptopnya gak detachable, jadi sangat mengurangi kapasitas tas. Gw dikasih budget sama nyokap 500 ribu, dengan asumsi tas yang gw cari mungkin hanya ada yang merknya Eiger atau yang sekelas. Ternyata gw berhasil dapet yang harganya setengah dari budget. Yeah.

2) Setelah beberapa tahun gak make sepatu sendal, akhirnya gw beli lagi. Sendal motor gitu, merknya Bata. You know, Bata ain’t half bad. Kualitasnya gak kalah sama merk-merk luar negeri yang buruhnya adalah anak-anak di bawah umur dengan upah sangat kecil dan dipaksa kerja 12 jam sehari. Well, gw gak perlu nyebut merk, kan?

3) Gw beli jaket baru. Akhirnya jaket yang udah gw aniaya(baca: dipake berbulan-bulan tanpa dicuci) itu akan punya teman(untuk dianiaya juga). Lagi-lagi warna jaket gw coklat. Gw suka warna coklat. Gw bahkan pernah gak sengaja ke kampus pake baju, celana, dan jaket warna coklat semua.

4) Gw beli celana jins baru. Jins gw udah gak ada yang utuh. Bagian lututnya udah robek semua. Alamat gak bisa dipake sholat tuh. Gw beli jins baru dengan ukuran… 28(biasanya ukuran yang dipajang di etalase distro itu 30 ke atas), dan masih rada kegedean. Gak ada masalah dengan pinggang, tapi gw harus motong bagian bawahnya. Man, I’m pretty smal!

Okeh, segitu aja postingan gw kali ini.

See you on my next postingan!

Iklan