Hello, fellas! Apa kabar? Sehat? Sakit? Sekarat? Koma? Keadaan vegetatif? Apa? Udah dibacain Yasin? Okeh, apapun itu yang penting sampeyan bisa baca tulisan ini, saya sudah senang. Meskipun serem juga sih kalo orang yang udah dibacain Yasin masih blogwalking ke sini…

Well, sebelum kita masuk ke review film Ice Age 3, ada baiknya kita berdoa menurut agama yang sedang ngetrend… eh, salah. Maksudnya sebelum kita masuk ke review, gw mau cerita-cerita dulu.

Jadi, abis nonton Transformers 2 di BIP, gw cabut ke Ciwalk buat… nonton lagi. Hell yeah, two movies in a day! In cinemas! Berasa orang tajir melintir aja gw(amin; ayo, pada bilang ‘amin’ juga). Tapi kali ini gw gak sendirian. Gw bareng temen gw yang kebetulan lagi ada di Bandung. Namanya Kanina, tapi gw manggil dia Canine(baca: kay-neen). Kalo sampeyan cari di gugel atawa wikipedia, Canine itu kurang lebih artinya anjing :p

Sampe di Ciwalk, kita sempet ada acara cari-carian. Gw bilang gw udah di depan loket, dia bilang dia juga udah di depan loket. Tapi kita gak ketemu. Gw mulai berpikir jangan-jangan dia nyasar, bukan di Ciwalk, tapi somewhere else. Ternyata oh ternyata, ada dua loket XXI di sana, yang tempatnya agak terpisah(baca:terpencil). Okeh, salahkan arsiteknya(sebenernya salah gw yang lupa kalo di sana tempatnya emang kayak gitu :p).

So, how was the movie? Here we go…

Ice Age 3: Dawn of The Dinosaurs

Diceritakan Ellie, istri Manny si mammoth sedang hamil tua dan sebentar lagi akan melahirkan. Diego, si macan pedang merasa ‘tumpul’ karena hidup terlalu damai. Sid si kukang, yang ingin menjadi orang tua, mencoba ‘mengadopsi’ anak dengan cara mengambil tiga ekor telur T-Rex di suatu goa es. Sid berpikir telur itu ditinggalkan oleh induknya, tapi ternyata Sid salah. Induknya datang mencari anak-anaknya. Masalah ini membawa Sid ke dunia dinosaurus(yang notabene seharusnya sudah punah) yang ada di bawah tanah. Teman-temanya berusaha menyelamatkannya hingga menempuh berbagai petualangan yang penuh bahaya dan bertemu Buck, seekor weasel(err… tupai?) yang gila petualangan dan punya musuh bebuyutan yang sangat, euh, tidak seukuran…

Dua kekuatan utama dalam film ini: humor dan animasi! It’s hillariously funny! Banyak sekali adegan dan dialog yang mampu membuat kita tertawa. Berkat animasi yang jempolan, adegan hiperbolik, gestur, dan ekspresi setiap karakter terbangun dengan sempurna. Tidak ketinggalan, para voice actor/actress yang mengisi suara tiap tokoh juga berhasil memerankan perannya dengan sangat baik. Thumbs up buat mereka!

Selain humor, film ini juga menyimpan pesan moral seperti cinta, kesetiakawanan, keikhlasan, dsb. Ini membuat film ini tidak sekedar lucu, tapi juga punya nilai edukatif. Sangat worth it untuk ditonton anak-anak maupun orang dewasa. Tapi tentu saja, atas nama ilmu pengetahuan, kita harus menjelaskan pada anak-anak bahwa tidak mungkin ada sinar matahari di bawah tanah dan seharusnya dinosaurus sudah punah di zaman es. Well, it’s just a movie anyway.

Saran dari gw selaku pembuat review: jangan nonton film ini sendiran. Film ini terlalu lucu untuk hanya dinikmati seorang diri. Ajak teman, keluarga, pacar, selingkuhan(kalau punya), untuk nonton film ini bareng-bareng. Lastly, my score for this movie is…. 4 star out of five!

Cabut dulu, gan!

See you in my next postingan!

Iklan